Friday, 03-12-2021 06:39:48 pm
Home » Kabar Desa » H. Husein Tokoh Sepuh di Desa Wonosekar Gembong

H. Husein Tokoh Sepuh di Desa Wonosekar Gembong

(2375 Views) August 22, 2017 3:10 pm | Published by | No comment

Suarapatinews. Pati – Tokoh Pejabat Publik: Kepala Desa Wonosekar tahun 1945 s.d. 1990-an. Panutan bagi seluruh warga Gembong khususnya desa Wonosekar. Tokoh pejuang veteran ini yang pernah berhadapan langsung dengan Belanda dimedan pertempuran paling dahsyat di trowelo sebagai garis pertahanan para pejuang badan BKR pimpinan sang Kapten Ali Mahmudi. Selasa tgl (22/08/17).

LogoLicious_20170822_214507
Bapak H. Husein (Alm) lahir di Pati sekitar tahun 1920 dan meninggal pada 22 April 2001. Beliau menjabat sebagai kepala desa Wonosekar, kecamatan Gembong, kabupaten Pati, provinsi Jawa Tengah, kurang lebih selama 45 tahun.
Menjabat sebagai kepala desa selama 45 tahun menjadikan beliau sebagai orang terkaya di desa pada saat itu.

Memang, seorang kepala desa tidak mendapatkan gaji bulanan seperti PNS atau pejabat publik lain. Namun, beliau memiliki jatah bengkok (sawah yang bisa ditanami oleh kepala desa yang sedang menjabat). Sedikit demi sedikit beliau membeli sawah di desa, hingga di penghujung usia, beliau memiliki sekitar setengah dari sawah di desa.



Jika dikonversikan ke rupiah sekarang, dengan memperhitungkan inflasi, kekayaan beliau kurang lebih Rp7 miliar. Memang bukan angka yang fantastis, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan konglomerat-konglomerat di negeri ini. Namun, angka 7 miliar sungguh luar biasa besar di desa kecil seperti Wonosekar, mengingat mayoritas masyarakat adalah buruh tani.
Bagi masyarakat Jawa pada tahun 1900-an, seorang kepala desa, atau yang di Jawa disebut sebagai petinggi, merupakan seorang priyayi yang sangat dihormati bagai seorang sultan. Setiap orang yang bertamu di rumah beliau pada masa itu tidak ada yang berjalan biasa dan duduk di kursi tamu.

Mereka berjalan setengah merangkak, menundukkan badan, dan duduk di lantai (lesehan). Meskipun begitu, beliau sama sekali tidak pernah merasa derajatnya jauh lebih tinggi dibandingkan perangkat maupun warga desa lainnya.
Dikisahkan oleh salah seorang penduduk desa setempat yang pernah menjadi buruh tani beliau, beliau tidak segan-segan berbicara panjang lebar kepada buruh dan pembantu beliau. Di waktu senggang, kadang beliau menanyakan kabar keluarga sang buruh, dengan sabar mendengarkan keluh kesah sang buruh, dan memberi petuah-petuah kehidupan.
Dikisahkan pula oleh salah seorang menantu H. Husein, beliau tidak pernah memandang rendah orang miskin. Menantu dari putra terakhir beliau berasal dari keluarga pedagang dengan kehidupan pas-pasan.

Menantu terakhir tersebut adalah satu-satunya menantu beliau yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Menantu lain berasal dari keluarga priyayi, paling tidak dari segi finansial hampir setara dengan beliau. Namun, beliau sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.

Bahkan, menantu terakhir tersebut menjadi menantu kesayangan.
Menjadi orang kaya di antara orang-orang miskin menimbulkan kepekaan sosial H. Husein sangat tinggi.

Banyak sekali dikisahkan oleh penduduk setempat yang pernah menjadi buruh beliau, rumah bata yang mereka tinggali sekarang adalah sumbangan dari H. Husein. Pada saat itu, rumah bata merupakan barang mewah bagi masyarakat desa.

Kebanyakan mereka hanya mampu mendirikan rumah gedek, dulu penulis sering menelusuri jalan desa bersama papa, didukung keingintahuan anak kecil yang besar, penulis sering menanyakan, “Itu apa, Pa?”. Papa penulis menjawab, “Itu sumur warga, dulu H. Husein yang membangun.” “Itu masjid terbesar di desa ini, H. Husein yang membangun.”.

“Itu madrasah, H. Husein yang membangun.” “Mereka sedang membangun jembatan penghubung dengan desa sebelah, H. Husein yang membangun.” Entah berapa bangunan lagi yang pernah penulis tanyakan kepada papa mendapat jawaban yang sama.
Sedikit cerita dari warga desa mengenai Madrasah Ibtidaiyah di desa itu. Desa Wonosekar merupakan sebuah desa yang bisa dibilang cukup terpencil dan berada sekitar 1 km dari jalan raya kecamatan.

Dulu, tahun 1990-an saat dunia pendidikan dasar merupakan barang mewah, H. Husein mendirikan MI di desa itu. Beliau pula yang menggaji guru-guru MI sampai beberapa tahun kemudian, MI bisa berjalan secara mandiri dengan SPP murid dan sumbangan uang desa. Ada pula kisah mengenai masjid dan TPQ setempat. Sekitar sepuluh tahun lalu, pendidikan agama di desa setempat sungguh sangat memprihatinkan.

Tidak ada balai khusus TPQ, hanya ada beberapa guru ngaji, yang mengaji juga hanya sedikit akhirnya H. Husein mendirikan TPQ di samping masjid pada sekitar tahun 1997. Awal berdirinya TPQ, lagi-lagi beliau menggaji para pengajar hingga beberapa tahun kemudian TPQ itu bisa berjalan secara mandiri dari SPP murid dan sumbangan masjid.

Hingga saat ini, setiap tahun, saat beberapa murid TPQ katam (lulus secara resmi dan dirayakan dengan pengajian), para guru ngaji, murid, dan warga tak pernah lupa mengirimkan doa Al-Fatihah untuk beliau dan istri.
Jika Anda berkunjung di desa Wonosekar, ada sebuah jembatan yang menghubungkan desa tersebut dengan desa sebelah. Sekitar tahun 1998, H. Husein membangun jembatan desa.

Namun sayang, sekitar tahun 2007, terjadi banjir bandang akibat bobolnya tanggul di gunung, sehingga jembatan itu runtuh. Akhirnya, pemerintah pusat membangun jembatan beton pengganti jembatan yang dibangun H. Husein.
Di sebuah sisi sungai desa itu, ada sumur umum yang biasa digunakan orang untuk mandi, mencuci, dan mengambil air untuk makan minum. Itu adalah sumur tua yang dibangun oleh H. Husein sekitar dua puluh tahun lalu.

 

Sampai sekarang, beberapa masyarakat miskin masih menggunakan sumur tersebut. Begitulah kisah salah seorang kepala desa terbaik di negeri ini. Beliau makmur karena rakyat dan memakmurkan rakyat, bahkan ketika jabatannya telah berakhir.

Semoga banyak pejabat negeri ini yang memiliki rasa empati dan sifat dermawan seperti beliau. Semoga kerendahan hati beliau menjadi teladan bagi setiap orang yang mengenalnya. Semoga segala amal beliau diterima di sisi Allah Swt.
“Sebaik-baiknya manusia diantaramu adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (H.R. Muslim).
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah Swt akan menambah kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah Swt, maka Allah Swt akan mengangkat (derajatnya). (H.R. Muslim). (K.Wali)

Published by

Categorised in: ,

No comment for H. Husein Tokoh Sepuh di Desa Wonosekar Gembong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *