Monday, 03-10-2022 10:06:24 pm
Home » Sejarah » Pintu Gerbang Majapahit Dan Sejarah Hari Jadi Kota Pati Yang Masih Semu Dan Pudar (Sejarah Yang Terabaikan)

Pintu Gerbang Majapahit Dan Sejarah Hari Jadi Kota Pati Yang Masih Semu Dan Pudar (Sejarah Yang Terabaikan)

(2843 Views) September 5, 2017 2:59 am | Published by | No comment

Suarapatinews. Pati – Di Indonesia ini banyak situs sejarah dan cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit, salah satu dikota Pati yaitu berupa pintu gerbang Majapahit, yang terletak didukuh Rondole desa Muktiharjo Margorejo Pati Jawa Tengah Indonesia, Selasa tgl (05/09/17).

LogoLicious_20170905_094705

Di depan sekolahan SDN 01 Muktiharjo terdapat gapuro bertuliskan plang PINTU GERBANG TAMAN KAPUTREN MAJAPAHIT sekitar 50 m menuju lokasi petilasan pintu gerbang Majapahit, pintu ini dihiasi atap, ukiran kayunya masih melekat dijamannya, belakang pintu masih iras dan utuh.



Didepan pintu terdapat dua kendil salah satunya tempat membakar menyan.

Sebelah kiri pintu terdapat sirap kayu asli gapuro pintu Majapahit, ceritanya adalah dulunya seorang Raden Bambang Kebo Nyabrang ialah anak dari sunan Muria yang tidak diakui karena sejak kecil diasuh oleh kakeknya.

Sebagai syarat agar diakui sebagai anak sunan Muria maka sunan Muria menyuruh Kebo Nyabrang membawa pintu gerbang Majapahit dari trowulan Mojokerto menuju gunung Muria dalam satu malam.

Dilain tempat dipadepokan sunan Ngerang, salah satu muridnya bernama Raden Ronggo ingin menyunting putri sunan Ngerang bernama Roro Pujiwat, dia mau diperistri dengan syarat Raden Ronggo memboyong pintu gerbang Majapahit ke padepokan.

Raden Ronggo kecewa karena pintu gerbang Majapahit telah dibawa Kebo Nyabrang ke Gunung Muria untuk dipersembahkan ke ayahandanya sunan Muria, bukti darma bakti seorang anak.

Sehingga Raden Ronggo mengejar Kebo Nyabrang untuk meminta pintu itu, tetapi tidak diberikan lalu timbul perselisihan yang akhirnya keduanya terlibat pertarungan yang sengit berhari-hari, sunan Muria yang melihat keduanya bertarung tidak ada yang kalah maupun menang lalu turun ketempat kedua orang tersebut bertarung, beliau berkata, wis padha lerena sak kloran padha bandhole.

Berhentilah kedua orang tersebut bertarung hingga sekarang tempat tersebut dinama dukuh Rodhole (sak kloran padha bandhole).

Sunan Muriapun mengakui raden Kebo Nyabrang menjadi anaknya dan beliau menyuruh putranya untuk menjadi penjaga pintu gerbang Majapahit, hingga keturunannya sampai saat ini.

Dan keberadaan pintu tersebut masih ada didukuh Rondhole desa Muktiharjo Margorejo Pati sampai sekarang meskipun kurangnya perhatian dari dinas pariwisata setempat.

Ketika tim sejarah suarapatinews pada waktu mewancarai salah satu juru kunci (Budi Santoso) tersebut, letak yang di tempati cagar budaya pintu Majapahit, tanah sertifikatnya masih dipegang oleh dinas pariwisata Prambanan, sehingga menurutnya dinas pariwisata Pati tidak ada dana untuk mengambil dan membangun tempat pintu gerbang Majapahit.

Padahal Cagar Budaya dilindungi oleh UU RI No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Juga tanah yang cukup luas halamannya kini menciut karena dijual untuk dijadikan pemukiman warga setempat.

Yang menjadi perhatian dan keprihatinan saat ini tanah sertifikatnya egendom ini malah dijual belikan oleh warga, yang akhirnya situs sejarah ini terabaikan dan terancam kepunahan karena tidak adanya perhatian dari Pemda setempat.

Padahal pada waktu kita masih kecil di sekolah dasar sudah dikenalkan sejarah dan cagar budaya pintu gerbang Majapahit.

Sehingga cagar budaya pintu gerbang Majapahit bisa dikenang oleh masyarakat lain di daerah di Indonesia.

Ini jugalah yang menyangkut kenapa hari jadi Kab. PATI ke- 694 sendiri yang baru di adakan karnaval besar besaran hari selasa tgl 29 Agustus kemarin, namun tidak di akui oleh beberapa narasumber, bahkan terkesan dipaksakan oleh beberapa team bedah sejarah Pati saat itu, hingga sekarang menjadi kemandulan dan tidak diketahui/akui oleh pemerintah pusat (istana negara).

IMG-20170905-WA0015

Sangat miris dan riskan sekali team yang mengatas namakan bedah sejarah Pati hanya mencari-cari sesuatu jarum di atas tumpukan jerami, yang akhirnya membuat rancu semu sejarah kabupaten Pati sendiri.

Sejarah kota Pati harus diteliti kembali kapan hari ulang tahun kota Pati yang sebenarnya, tanpa harus merobek kebenaran sejarah hari jadi kota Pati sendiri. ($.uyoto)

Published by

Categorised in:

No comment for Pintu Gerbang Majapahit Dan Sejarah Hari Jadi Kota Pati Yang Masih Semu Dan Pudar (Sejarah Yang Terabaikan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *