Sunday, 28-11-2021 11:26:53 pm
Home » Sejarah » Misteri Besar Hilangnya Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa

Misteri Besar Hilangnya Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa

(9146 Views) May 25, 2018 2:08 pm | Published by | No comment

Suarapatinews. Sejarah – Sejarah mencatat bahwa MAJAPAHIT adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah berjaya di Nusantara. Dalam waktu kurang dari 20 tahun saja, Mahapatih Gajah Mada berhasil menaklukkan seluruh wilayah Nusantara sampai ke wilayah Asia Tenggara dengan mengerahkan armada “maritim”-nya yg merupakan armada maritim paling terbesar saat itu.

Dan yg menarik disini adalah bahwa seluruh wilayah Nusantara tersebut ternyata berhasil ditaklukkan di bawah panji-panji MAJAPAHIT hanya dengan melakukan dua kali peperangan saja, dan kedua perang ini pun tidaklah berlangsung lama.



Lalu pertanyaannya adalah, strategi apa yang telah dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada hingga mampu menaklukkan seluruh wilayah Nusantara tanpa melakukan peperangan?”

Usut punya usut lewat beberapa literatur ternyata Mahapatih Gajah Mada justru lebih banyak menggunakan strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” daripada menggunakan strategi perang.

Strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” inilah yg rupanya gencar dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada, yg dilakukan dengan cara memberikan “pinjaman emas bersyarat” kepada seluruh daerah taklukkannya yg jumlahnya kurang lebih mencapai 145 kerajaan yg tersebar di seluruh wilayah Nusantara.

Dengan “pinjaman emas bersyarat” tersebut, semua kerajaan yg “mengambilnya” kemudian menjadi bagian dari wilayah administratif Kerajaan Majapahit dan sekaligus menjadi daerah teritori politik yg harus tunduk di bawah kendali Kerajaan MAJAPAHIT.

Nah strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” inilah yang saat ini dicopy paste, ditiru dan diterapkan oleh Negara CHINA lewat Program “One Belt One Road” (OBOR), yakni dengan cara memberikan pinjaman bersyarat “Silk Road Fund”-nya, persis seperti strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” yang dilakukan oleh Kerajaan MAJAPAHIT untuk menaklukkan 145 kerajaan di wilayah Nusantara.

CHINA dengan program “One Belt One Road” (OBOR) dan pinjaman bersyarat “Silk Road Fund”-nya berambisi untuk menaklukkan duapertiga dunia, yg dimulai dari china timur berlanjut ke atas menggunakan rute “polar slik road”, kemudian menuju daratan eropa menggunakan rute “land silk road”, lalu menuju daratan afrika hingga ke selat hormuts menggunakan rute “maritim silk road” dan kemudian terakhir melewati rute selat malaka dan kembali lagi ke pantai timur china, dimana total keseluruhannya mencakup duapertiga wilayah dunia.

Jika CHINA berhasil memenuhi ambisinya untuk menaklukkan duapertiga wilayah dunia ini, maka yang tersisa hanyalah wilayah Amerika dan Benua Australia yang sekarang membuat program tandingan bernama “QUAD” guna mengimbangi program “One Belt One Road” (OBOR) yg sedang gencar dijalankan oleh Negara CHINA.

Lewat program “One Belt One Road” (OBOR) yang gencar dilakukan oleh Negara CHINA ataupun program “QUAD” yg juga gencar dilakukan oleh Negara AMERIKA, keduanya baik CHINA ataupun AMERIKA kini telah menjelma menjadi Kolonialisme Era Baru yg saling bersaing dan berlomba-lomba menaklukkan negara-negara lainnya sebanyak-banyaknya.

Dan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, negara dengan garis pantai terpanjang di dunia dan negara yang memiliki banyak laut dalam dan palung terdalam di dunia, berada tepat di tengah-tengah kekuatan dua hegemoni terbesar di dunia yakni CHINA dan AMERIKA, yang memiliki posisi yang sangat strategis untuk diperebutkan oleh keduanya.

Nah kolonialisme era baru yang dilakukan oleh dua hegemoni terbesar di dunia inilah (terutama CHINA) yang jauh-jauh hari telah diingatkan dalam Wasiat Nabi KHIDIR as kepada Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 M dan Syaikh Abdul Rauf Syah Kuala pada tahun 1657 M, yg kemudian wasiat ini diabadikan sebagai sebuah Hikayat yg ditulis dalam Kitab “Mandiyatul Badiyah” yg dikenal oleh masyarakat awam sebagai “Ramalan Syah Kuala”.

Dalam “Ramalan Syah Kuala” poin 6 dan poin 9, Nabi KHIDIR as menyampaikan wasiatnya sebagai berikut:

Poin 6:
Kerajaan itu (Al-Jawi atau Jumhuriyah Indunesia) akan berdiri sampai kuat, akan tetapi negerinya penuh huru hara dan banyak pertumpahan darah.

Rakyat banyak melakukan kemudharatan (perbuatan tyang salah) dan kehidupan mereka susah, perdagangan mahal, pakaian dan makanan mahal, yang pandai malah tutup mulut, pembesar-pembesar banyak berdusta, dan semua rakyat berpaling muka pada pembesar itu, perampasan terjadi di tiap-tiap persimpangan (wilayah perbatasan) tanpa bersenjata, dan banyak orang pada masa itu sangat suka pada MERAH dan KUNING dengan menanti yang tidak mengakui Allah (atheisme/komunisme) dan bermusuhan dengan agama yang ada di atas muka bumi ini”.

Poin 9:
Bahwa nanti akan datang pada suatu masa, rakyat akan bangkit dengan amarahnya seperti api membara untuk membela negeri, dan bermaksud melepaskan diri dari KUNING dan MERAH dan sebagainya.

Akan tetapi kelakuannya bermacam-macam, dan pada akhirnya yang mengalahkan KUNING dan MERAH itulah yang menang, yakni golongan yang tidak suka pada perbuatan yang salah, serta kokohlah Ajaran Islam. Negeri aman, damai, adil, makmur seperti dahulu kala, yakni akan dimenangkan oleh orang-orang yang beriman”.

Sang Guru berkata bahwa yg dimaksud dengan perlambang MERAH dan KUNING dalam Wasiat Nabi Khidir di atas sesungguhnya adalah Negara CHINA yang memiliki lambang bendera dengan dua warna yakni MERAH dan KUNING.

Bukalah matamu lebar-lebar bagaimana CHINA telah menanamkan cakar kolonialisme Geo-politiknya di negeri ini melalui strategi “pinjaman hutang bersyarat” dengan bunga pengembalian hutang yg besar, dimana ketika negeri ini tidak mampu membayarnya justru akan membuat hutang tersebut akan terus membengkak dari waktu ke waktu.

Dan pada akhirnya CHINA pun dapat mengendalikan segalanya di negeri ini, mulai dari Tenaga Kerja CHINA yang datang berbondong-bondong ke negeri ini, ekspor dan impor dari CHINA, pengerukan sumber daya alam negeri ini secara besar-besaran dan bahkan CHINA pun dapat mengendalikan dan mengintervensi sang pemimpin nomor satu negeri ini di dalam kebijakan-kebijakan strategis, dan anehnya hanya segelintir orang yang menyadari politik hegemoni CHINA ini.

Kembali ke bahasan kita tentang MAJAPAHIT, pertanyaan lanjutannya adalah Lantas seberapa banyak gerangan persediaan emas yg dimiliki oleh MAJAPAHIT hingga mampu memberikan “Pinjaman Emas Bersyarat” kepada 145 Kerajaan di seluruh Nusantara yg menjadi daerah teritori geo-politiknya?”

Pada masa MAJAPAHIT berjaya di Nusantara, emas telah banyak dipergunakan untuk memperindah apapun, dan hal ini tercatat dengan rapi dan mendetail oleh seorang Padri Katolik dari Ordo Fransiskan asal Czech (Ceko) yang bernama Odorico Mattiuzzi ketika ia berkunjung ke ibukota MAJAPAHIT di Pulau Jawa masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (Raja kedua MAJAPAHIT) sekitar tahun 1321-1322 Masehi.

Diperkirakan dialah orang Eropa pertama yang mendaratkan kakinya di Pulau Jawa. Pastor yang terkenal dengan nama Odorico da Pordenone ini cukup rajin menulis dan tak perlu diragukan lagi tentang kemampuan menulisnya.

Sebab, sebelum ia menulis kesaksian tentang Pulau Jawa, ia sudah banyak berkarya, baik secara religi maupun kesusastraan. Hanya saja memang namanya tak begitu dikenal lagi, terutama oleh generasi muda di negeri ini.

Dalam bukunya yang berjudul “I viaggi di Frate Odorico” atau yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul “The Travels of Friar Odoric“, sang pastor menerangkan bahwa ia telah mengunjungi beberapa tempat di Nusantara yaitu Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Banjarmasin di Pulau Kalimantan. Ia dikirim oleh Paus Yohanes XXII untuk menjalankan misi penyebaran agama Katolik di wilyah Asia Tengah dan Asia Timur.

Di Pulau Jawa sebenarnya ia hanya ingin singgah, tapi akhirnya kemudian ia tinggal dalam waktu yg cukup lama, dan saat berkunjung ke ibukota MAJAPAHIT, sang pastor dipersilahkan untuk berkunjung dan bertamu di salah satu istananya dalam bukunya ia menulis:

“….. ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa,….. Maharaja di pulau ini mempunyai banyak istana yang sangat mengagumkan, karena saking besarnya, anak tangga atau undak-undaknya pun besar, luas, dan tinggi, bahkan, anak-anak tangganya diselang-seling dengan emas dan perak.

Bahkan, jalanan atau trotoar di istana disusun menggunakan satu ubin emas dan satu ubin perak yang berselang seling, demikian juga dengan dinding istananya, berlapis emas, di bagian luarnya banyak ukiran-ukiran kesatria-kesatria dari emas.

Banyak dari kepala patung kesatria tersebut dikelilingi lingkaran-lingkaran emas, seperti orang-orang suci (santo). Sangat menakjubkan, karena seluruh lingkaran-lingkaran tersebut ditaburi batu permata.

Selain itu, langit-langit istana dibuat dari emas murni, singkatnya tempat ini lebih kaya dan lebih mewah dari pada tempat manapun di dunia.

Lalu, selain catatan di atas, pastor Odorico Mattiuzzi juga telah menuliskan keterangan berikut ini:

Maharaja mempunyai bawahan tujuh raja bermahkota, pulaunya merupakan salah satu pulau terbesar di Dunia, dan sangat padat penduduknya, memiliki sejumlah besar cengkeh, lada dan pala serta segala macam rempah-rempah, juga banyak menghasilkan segala jenis bahan pangan, kecuali anggur.

Raja Jawa memiliki istana yang besar dan mewah, yang termegah di antaranya yang pernah saya lihat, dengan anak tangga yang luas dan besar untuk naik ke tingkat atas, masing-masing anak tangga dihiasi dengan emas dan perak.

Tembok di istana dihiasi dengan piring-piring bertempa emas, dimana terdapat gambar para pahlawan yang diukir dengan emas yang masing-masing mahkotanya terbuat dari emas bertahtakan batu-batu mulia.

Atap dari istana ini terbuat dari emas murni, dan pada ruangan bawah tanah lantainya dilapisi emas dan perak, Kaisar Yang Agung atau Kaisar yang bertahta di Cathay, telah beberapa kali berperang melawan Raja Jawa, akan tetapi, selalu berhasil dikalahkan dan diusir kembali.

Sungguh, kerajaan yang disebutkan disini tak lain adalah MAJAPAHIT yang dikunjungi oleh sang pastor dalam kurun waktu tahun 1321-1322 Masehi, pada masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (Raja kedua MAJAPAHIT).

Disebutkan juga dalam bukunya tersebut bahwa di Pulau Jawa saat itu terdapat banyak cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ini jelas menunjukkan tentang kekayaan negeri tersebut, yang jelas sekali bisa menopang kejayaannya, ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan fakta sejarah.

Selain pastor Odorico Mattiuzzi, ternyata ada pula seorang musafir dari daratan China yang menuliskan kesaksiannya.

Sosok itu bernama Ma-Huan, yang telah berkunjung ke MAJAPAHIT di masa akhir pemerintahan Prabu Sri Wikramawardhana (Raja kelima MAJAPAHIT), catatan perjalanannya dimuat dalam sebuah Kronik China yang berjudul “Ying-Yai-Sheng-Lan”.

Ma-Huan sendiri adalah seorang China Muslim yang menulis buku berjudul “Ying-Yai-Sheng-Lan”, sebuah kronik perjalanan ekspedisi Laksamana Cheng-Ho pada abad ke-15 Masehi.

Ia tidak mengikuti seluruh ekspedisi, tetapi ia menulis banyak tempat yang juga tidak ia kunjungi. Catatannya mencakup wilayah Indocina, Nusantara, Teluk Benggala, Persia, Jazirah Arabia, sampai dengan pantai timur Afrika.

Ma-Huan juga sempat melaksanakan ibadah Haji dalam lawatannya ke Mekah, perlu diketahui bahwa perjalanan Laksamana Cheng-Ho di tahun 1405-1433 Masehi seringkali didokumentasikan dalam Kronik China oleh Ma-Huan saat melakukan perjalanan laut khususnya ke wilayah Nusantara dan Teluk Persia.

Kronik Ma-Huan dalam sejarah Nusantara sangat penting dan berharga sebagai sumber informasi mengenai kehidupan masyarakat Pulau Sumatera ataupun Pulau Jawa pada masa lalu.

Dalam sebuah pengembaraannya tahun 1416 Masehi, Ma-Huan mencatat apa yang dia lihat langsung di MAJAPAHIT, khususnya tentang kemakmurannya sebagai berikut.

Tahun ke sebelas Kaisar Yung Lo menerbitkan maklumat kekaisaran kepada kasim Cheng-Ho untuk memimpin kapal angkut harta dan berlayar di laut barat demi membacakan perintah kaisar dan memungut upeti.

Aku turut serta sebagai penerjemah kemanapun ekspedisi ini pergi, tak terhitung jutaan li, berbagai negeri dengan beda iklim, musim, topografi dan penduduk, aku melihat keragaman ini dengan mata sendiri dan menjalaninya sendiri dengan kakiku.

Pengalaman ini membuatku percaya bahwa buku berjudul “A Record of The Islands and Their Barbarians” bukan bikinan, bahkan lebih banyak lagi keanehan dan keajaiban yang bisa disaksikan.

Maka aku menulis penampilan orang-orang asing ini, setiap negerinya, adat istiadat mereka dan membuka wawasan pembaca nantinya seberapa jauh pengaruh Kaisar kita dibandingkan dengan dinasti-dinasti  sebelumnya.”

Lalu di dalam bab yang berjudul “The Country of Chao-Wa (Java)” Ma-Huan menuliskan sebagai berikut :

Negeri ini dulu disebut She-pó, memiliki empat kota besar tanpa tembok kota dan suburban area (kota di masa Dinasti Ming biasanya dikelilngi tembok, dan suburban area adalah rumah penduduk diluar perimeter tembok kota – alias luar kota/pinggiran).

Kapal asing selalu berlabuh pertama kali di kota bernama Tu-pan (Tuban), lanjut ke New Village/Kota Baru (Gresik), Su-lu-ma-i (Surabaya) dan terakhir kota bernama Man-che-po-i (Majapahit) dimana raja tinggal, dari New Village (Gresik) setelah berlayar kurang lebih dua puluh li ke selatan, kapal mencapai Su-lu-ma-i (Surabaya).

Orang lokal menyebutnya Su-erh-pa-ya, di sungai air yang mengalir adalah air tawar. Dari sini kapal besar tidak bisa masuk dan kita harus menggunakan kapal kecil.

Selain itu Ma-Huan juga menyebutkan dalam Kroniknya:

Di MAJAPAHIT udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (China). Panen padi dua kali setahun, padinya kecil-kecil, berasnya berwarna putih.

Disana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, emas, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak.

Burungnya aneh-aneh, ada Burung Nuri sebesar ayam dengan aneka warna merah, hijau, dan sebagainya. Burung Beo yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang, burung kakatua, burung merak, dan lainnya lagi.

Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka, dan sebagainya.

Bunga yang penting adalah Bunga Teratai, penduduk di pantai utara di kota-kota pelabuhan seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara, dan China.

Lalu, Ma-Huan juga memberitakan bahwa ibukota MAJAPAHIT berada di pedalaman pulau Jawa. Kemudian istana MAJAPAHIT dikelilingi oleh tembok tinggi yang dihiasi tiga pintu gerbang.

Selain itu ada kota-kota pelabuhan yang ramai, yang disana terdapat banyak orang China dan Arab menetap, penduduk anak negeri datang ke kota-kota tersebut untuk berdagang.

Laporan Ma-Huan selanjutnya menyebutkan:

Di pusat ibukota MAJAPAHIT berpenduduk sekitar 200-300 keluarga, suatu angka yang cukup besar untuk zaman itu, penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul.

Setiap laki-laki yang berumur 3 tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mereka mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.

Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya, mereka suka membeli batu-batu perhiasan yang bermutu, barang pecah belah dari porselin China dengan gambar bunga-bungaan berwarna hijau.

Mereka juga membeli minyak wangi, kain sutra, katun yang baik dengan motif hiasan ataupun yang polos. Mereka membayar dengan uang tembaga MAJAPAHIT, dan uang tembaga CHINA dari dinasti apapun laku juga di kerajaan MAJAPAHIT.

Selanjutnya, dalam buku yang berjudul Ying-Yai-Sheng-Lan itu, Ma-Huan juga mencatat sebagai berikut:

Di MAJAPAHIT, banyak bermukim orang Tionghoa atau China dari daerah Canton (Kanton), Chang Chou, Ch’uan, dan Fukien. Jumlahnya mencapai sekitar 1000 orang dan mereka tergolong orang-orang kaya.

Selain itu ada pula orang-orang asing lain yang sudah banyak bermukim di wilayah MAJAPAHIT, di antara mereka itu ada yang berasal dari Jambudipa (India), Kamboja, Champa, Yawana, Gada, Kanataka, dan Arab.

Jadi, penjelasan dari Ma-Huan ini telah menambahkan fakta yang tak terbantahkan lagi, bahwa MAJAPAHIT itu adalah sebuah negara besar yang sangat makmur dan terpandang pada masanya.

Sehingga wajar saja jika Mahapatih Gajah Mada mampu menjalankan Strategi Geo-politik “Pinjaman Emas Bersyarat”-nya kepada 145 Kerajaan di seluruh wilayah Nusantara yg menjadi daerah teritori geo-politiknya.

Selain keterangan tertulis yang berasal dari kedua orang di atas (Pastor Katolik dari Italia, Odorico Mattiuzzi dan Musafir Muslim dari China, Ma-Huan), maka dahulu di negeri CHINA pernah ditulis sebuah kitab pusaka yang memuat berbagai informasi penting.

Salah satunya mengenai kondisi di Pulau Jawa, kitab pusaka kuno tersebut saat ini berada di dataran tinggi Tibet.

Dalam salah satu keterangannya yg ada dalam Kitab Pusaka Kuno tersebut disebutkan sebagai berikut:

Istana para Dewa yang dijaga harimau, gajah, naga, burung phoenix, dan badak adalah Pulau Jawa, tempat segala kemuliaan dan ilmu pengetahuan, yang gunung, sungai dan lautnya memuntahkan emas dan permata.

Nah yang menjadi pertanyaan yg menggelitik sekarang adalah:

Lantas dimanakah gerangan jejak-jejak peninggalan MAJAPAHIT yg sangat besar dan super mewah ini berada?”

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini ada di dalam salah satu kalimat dalam catatan tulisan Pastor Katolik Odorico Mattiuzzi yakni:

“….. ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa …..”

Dan juga ada di dalam salah satu kalimat dalam catatan tulisan Musafir Muslim Ma-Huan yakni:

Penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul.

Kedua kalimat yang bersumber dari Pastor Odorico Mattiuzi dan Musafir Ma-Huan di atas mengenai bagaimana kondisi geografis Pulau Jawa beserta keadaan penduduknya yang telah memakai kain dan baju, sebenarnya telah digambarkan oleh Giuliamme Le Testu pada tahun 1550 Masehi dalam sebuah peta kuno yang memuat gambar Pulau Jawa Kecil (JAVA PETITE) dan Pulau Jawa Besar (JAVA LE GRANDE).

Yang saat itu memperlihatkan adanya peradaban yang sudah maju di Pulau Jawa Besar (JAVA LE GRANDE) dimana para penduduk Pulau Besar ini sudah memakai pakaian yang tertutup, namun sayang ketika Negeri Nusantara ini dijajah dan dikuasai oleh Barat (Kolonial) maka peta kuno tentang Pulau JAWA PETITE dan JAWA LE GRANDE tersebut dipalsukan dan ditutupi.

Sehingga ketika pertanyaan yang menggelitik ini ditanyakan kembali:

Lantas dimanakah gerangan jejak-jejak peninggalan MAJAPAHIT yg sangat besar dan super mewah ini berada?”

Maka jawabnya adalah bahwa apa yang digambarkan oleh Pastor Katolik Italia Odorico Mattiuzi ataupun Musafir Muslim China Ma-Huan tentang MAJAPAHIT sesungguhnya adalah MAJAPAHIT yang saat ini jejaknya ada di Pulau JAWA BESAR yang disebut oleh Para Penjelajah Portugis sebagai Pulau JAVA LE GRANDE.

Dan akhir kata, Sang Guru pun berpesan:

Yakinlah dengan janji 500 Tahun yang telah diucapkan oleh Sabda Palon, sosok yang telah mengayomi negeri ini ribuan tahun, bahwa kelak jika sudah tiba waktunya, maka MAJAPAHIT dan Pulaunya (yakni Pulau JAVA LE GRANDE) akan dimunculkan kembali ke dunia nyata mengiringi kebangkitan negeri ini untuk menjadi mercu suar peradaban dunia yang rahmatan lil ‘aalamiin.”

Demikian kiranya kajian saya tentang Strategi Hegemoni Geo-Politik “Perjanjian Emas Bersyarat” MAJAPAHIT yang saat ini ditiru dan diterapkan oleh Negara CHINA untuk memenuhi ambisinya menaklukkan duapertiga dunia. ($.$)

Nb : Bayu Sekar Jagad penulis adalah pemerhati sejarah.

Published by

Categorised in:

No comment for Misteri Besar Hilangnya Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *