Wednesday, 01-12-2021 06:23:13 am
Home » Daerah » Tolak Impor Beras (MakJeDus) Dinilai Berpotensi Menjadi Sentra Pertanian Dan Perkebunan

Tolak Impor Beras (MakJeDus) Dinilai Berpotensi Menjadi Sentra Pertanian Dan Perkebunan

(551 Views) November 28, 2018 1:20 am | Published by | No comment

Suarapatinews. Demak – Ada apa dengan MakJeDus…? MakJeDus adalah uraian dari Pedagang Beras dan Gabah tiga wilayah Kabupaten yang tergabung yaitu, Kabupaten Demak, Jepara dan Kudus (MakJeDus) Jawa Tengah.

MakJeDus siap menjadi pionir perekonomian dan perdagangan beras nasional dan produk UMKM lainnya.

Ketiga wilayah ini berpotensi menjadi sentra sejumlah komoditas pertanian serta perkebunan karena selama ini sudah memiliki komoditas unggulan, seperti buah dan padi.



Seperti “Kabupaten Demak dikenal dengan buah jambu dan blimbingnya. Di sektor pertanian ada tanaman padi yang menobatkan Demak sebagai salah satu kabupaten penyangga pangan di Jateng karena sebagian besar hasil panennya dikirim ke daerah lain.

Dikutip pada diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan tema “Pemanfaatan dan Penerapan Iptek di Daerah” di Balai Desa Pidodo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Rabu (21/11/18) kemarin.

Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Wibowo dihubungi oleh media.

Daryatmo mengingatkan bahwa Kabupaten Demak juga menjadi penghasil bawang merah terbesar kedua setelah Kabupaten Brebes untuk tingkat Jateng, sedangkan untuk tingkat nasional dimungkinkan menduduki peringkat tiga.

“Hanya saja, kurang terekspos sehingga sektor pertanian dan perkebunannya perlu didorong agar lebih maju,” ujarnya.

Salah satunya, kata Daryatmo, perlu ada dukungan teknologi pengolahan pascapanen agar ada nilai tambah dari masing-masing hasil pertanian maupun perkebunannya.

“Jika ada pengolahan pascapanen, tentunya bisa menjadi produk khas dan layak dijadikan oleh-oleh khas Demak,” ujar politisi PDIP dari Daerah Pemilihan II Jateng (Jepara, Kudus dan Demak) itu.

Untuk itulah, kata dia, kehadiran LIPI ke Demak sangat tepat untuk membantu masyarakat di Kabupaten Demak menguasai teknologi pengolahan hasil pertanian mulai dari pengolahan awal hingga pascapanen.

“Masyarakat perlu dukungan teknologi dan modernisasi pertanian berbasis realitas wilayah, bukannya harus mengimpor yang belum tentu sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ia optimistis dengan bantuan LIPI bisa lebih maju, mengingat sudah ada produk unggulan di Demak, yakni padi, jambu air dan blimbing.

Apabila sektor pertanian semakin maju dan produktif, dia memastikan, sektor pertanian semakin dibanggakan dan tidak terpinggirkan.

LIPI Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto menambahkan potensi di bidang pertanian dan perkebunan di Kabupaten Demak memang masih bisa dikembangkan menjadi lebih maju.

Salah satunya, kata dia, untuk komoditas bawang merah yang dihasilkan dari Demak juga bisa diolah menjadi bawang goreng krispi sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi, dibandingkan ketika dijual dalam bentuk bawang merah utuh tanpa ada proses pascapanen.

“LIPI juga menemukan sejumlah teknologi di bidang pertanian. Kami tentu menginginkan bisa diaplikasikan di masyarakat,” ujarnya.

Teknologi yang dikembangkan pingin diaplikasikan ke masyarakat desa, salah satunya pembuatan pupuk cair yang merupakan suplemen buat tanaman yang terbuat dari bahan baku lokal.

Tanah pertanian saat ini sudah terkontaminasi pestisida dan pupuk kimia sehingga lama-lama menjadi kurang subur.

Pupuk cair tersebut, katanya, sudah diujicoba di Wonogiri pada tanaman padi dan hasilnya dalam satu hektare bisa menghasilkan gabah hingga 12 ton, sedangkan sebelum menggunakan pupuk cair atau pupuk organik hayati hanya berkisar 8 ton per hektare.

“Kami juga siap melatih petani di Demak cara membuat pupuk organik hayati sendiri,” ujarnya.

Kudus dan Jepara adalah kota kecil di kawasan Jawa Tengah bagian timur. Kota yang dahulu berbasis agraris dan perdagangan itu bertransformasi menjadi kota wisata religi berbasis industri kreatif.

Kudus tumbuh menjadi kota yang ditunjang industri pengolahan rokok, pakaian jadi, makanan dan minuman.

Pada tahun 2012, di Kudus terdapat 11.483 industri besar, sedang, dan kecil atau rumah tangga. Industri tembakau dan rokok mendominasi dengan 34,94 persen dari jumlah industri, diikuti industri pakaian jadi 22,29 persen, lalu makanan dan minuman 8,43 persen.

Jepara berkembang menjadi kota industri mebel dan patung ukir yang terkenal hingga Benua Asia dan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat. Pada 2012, di Jepara ada 4.104 perusahaan mebel dengan tenaga kerja sekitar 54.400 orang dan kerajinan kayu 369 unit usaha dengan 2.421 pekerja.

Terlepas dari kedua wilayah  Kudus dan Jepara tersebut menjadi sentra pertanian penghasil padi termasuk bagian dari penyangga pangan di Jateng.

Di Kudus menjadi inspirasi masyarakat mengembangkan jenang. Di Jepara, RA Kartini menjadi pionir yang mengangkat ekonomi kerakyatan Jepara ke dunia internasional.

Untuk mengantisipasi hasil pertanian agar pendistribuanya sesuai harapan sejumlah komunitas dibentuklah sebuah organisasi perdagangan hasil bumi yang meliputi Demak, Jepara, dan Kudus disingkat (MakJeDus).

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya petani.

Selain itu juga ikut mengontrol harga barang / pangan, dan mempererat tali silaturrohmi di antara anggota.

Untuk mengetahui kepengurusan MakJeDus organisasi perdagangan  hasil bumi yaitu, Ketua H. Djumadi  (Demak), wakil Ketua Ali Imron (Kudus), wakil Ketua Zubaidah  (Jepara), Sekretaris   Efi Damayanti (Jepara), Bendahara Muni’ah (Demak), Bendahara Samiurrohmah (Demak), Penasehat Hukum  H. Heni Purwadi SH, Seksi Humas Rudjono (Kudus), Seksi distributor  H. Abdul Mutholib (Demak).

Harapan dari  anggota  MakJeDus, “penanganan masalah beras minta berjalan seperti tahun tahun sebelumnya.

Selain itu para pedagang minta di kurangi impor beras karna hasil dari petani kita sudah mencukupi kebutuhan pangan.

Penerima bantuan beras pendistribusinya melalui bulog, tidak melalui salah satu distributor. Yang paling dominan pedagang menolak bantuan beras melalui salah satu distributor.

Kedepannya MakJeDus dapat menjadi wadah bagi pedagang beras dan gabah yang bisa berkompetisi dengan kandungan produk lokal tanpa mengimpor, sehingga baik hilir hingga hulu dari petani produksi dan pedagang bisa terus bertumbuh menjadi aset yang akan terus berkembang, salah satu pionir rantai perdagangan dan perekonomian saat ini,” tegas H. Heni Purwadi penasehat hukum Laskar Merah Putih. ($.diman)

Published by

Categorised in:

No comment for Tolak Impor Beras (MakJeDus) Dinilai Berpotensi Menjadi Sentra Pertanian Dan Perkebunan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *