Saturday, 04-12-2021 01:30:35 pm
Home » Kabar Desa » Wisata Desa » Tradisi Meron Refleksi Hari Maulud Nabi Muhammad SAW

Tradisi Meron Refleksi Hari Maulud Nabi Muhammad SAW

(259 Views) October 30, 2020 2:57 pm | Published by | No comment

Suarapatinews. PATI – Sepi pengunjung, tampak gunungan meron di gelar di halaman perangkat desa Sukolilo menjulang tinggi dengan berbagai aneka buah tanaman polowijo hasil panen warga dan masyarakat setempat, Jumat tgl (30/10).

Tradisi meron menjadi bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia. Dok/SPN/Kusno.

Tradisi meron di kecamatan Sukolilo Pati yang digelar setiap tahun biasanya bisa menyedot perhatian warga sekitar maupun yang melintas di jalan raya Pati-Purwodadi.



Puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di kecamatan Sukolilo diperingati sebagai tradisi meronan, yang berlangsung digelar sederhana karena kondisi pandemi yang masih mencekam.

Perayaan kali ini tampak sepi perhatian warga, tak hanya warga Sukolilo, bahkan warga lain yang menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

“Tradisi ini sudah rutin digelar setiap tahunnya untuk peringatan maulid nabi, antusiasnya tidak hanya dari masyarakat sekitar saja, tapi juga banyak dari luar daerah yang turut menggotong gunungan.

Acara puncak yang biasanya meriah hanya dilaksanakan dihalaman rumah perangkat desa masing-masing.

Sedang pusat acara Meron dilaksanakan pada hari Jum’at tgl (30/10/2020) pukul 13.00 WIB-sampai selesai.

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW sebagai puncak acara ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang dibawa ke masjid besar Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan.

Kemudian dilakukan doa bersama yang di hadiri ketua paguyuban meron Abdul Qadir, Pjs kepala desa Sukolilo Harminto, anggota Polsek Sukolilo, anggota Koramil sukolilo, perangkat desa dan beberapa tokoh masyarakat.

Ketua Yayasan Meron Indonesia, Abdul Qodir menjelaskan,” bahwa meron terbuat dari bahan makanan yang dironce, yakni makanan serupa rengginang terbuat dari ketan lantas disusun sebagaimana melati dan ampyang.

Itu merupakan lambang yang mempunyai makna merekatkan persaudaraan, persatuan,” jelasnya.

Hal tersebut dijelaskannya ternyata sudah diambil dari para leluhur, dengan olahan seperti kronce bunga melati, rengginang dan ampyang.

Keunikan meron punya karakter, yang tidak berubah meskipun ada perubahan jaman teknologi dan informasi.

Abdul Qadir menjelaskan, bahwa prosesi dimulai dari istighosah, kemudian diadakan takhtimul Quran bil ghoib, setelah itu prosesi arak-arakan gunungan dan terakhir doa bersama.

Gunungan dari aparat desa dan tokoh masyarakat setempat itu diarak berkeliling dan dengan spot terakhir di depan masjid Baitul Yaqin.

Para masyarakat yang mengambil makanan itu mengharap berkah, dengan adanya ritual Meron yang menjadi peringatan Maulid Nabi Muhammad di desa Sukolilo Pati.

Tentang asal-usul tradisi meron menurut ketua paguyuban merhon menceritakan ketika Pati mempunyai hubungan kekerabatan yang baik dengan Mataram.

Mereka sepakat mengembangkan Islam yang subur dan menentang setiap pengaruh kekuasaan dan budaya asing.

Banyak pendekar sakti mataram yang didatangkan ke Pati untuk melatih keprajuritan.

Karena itu mereka harus tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di Pati.

Ada seseorang bernama Ki Suta Kerta yang menjadi demang Sukolilo.

Meskipun ayah dan kakeknya berasal dari Mataram dia belum pernah mengenal bumi leluhurnya.

Tapi dia bersukur tinggal di Pesantenan karena kotanya juga makmur.

Sebaliknya saudara Ki Suta yang bernama Sura Kadam ingin berbakti pada Mataram.

Diapun pergi ke Mataram, ketika sedang bersiap menghadap Sultan, ada keributan.

Ada seekor gajah mengamuk dan telah menewaskan penggembalanya. Sura Kadam pun berusaha mengatasi keadaan.

Dia berhasil menjinakkan gajah dan menungganginya, dia diangkat menjadi punggawa Mataram yang bertugas mengurus gajah.

Suatu hari Sura Kadam bertugas memimpin pasukan Mataram menaklukkan kadipaten Pati.

Setelah perang usai Sura Kadam pun menjenguk saudaranya di kademangan Sukolilo.

Demang Sura Kerta terkejut dan ketakutan. Dia takut ditangkap dan diringkus.

Sura Kadam mengetahui hal itu dan menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk menyambung tali persaudaraan yang putus dan dia sudah membaktikan diri pada Mataram.

Dia minta izin supaya para prajurit diijinkan menginap di kademangan Sukolilo sambil menunggu saat yang tepat untuk kembali ke Mataram.

Sura Kadam pun mengusulkan supaya mengadakan acara semacam sekaten untuk menghormati Maulud Nabi dan memberi hiburan pada rakyat.

Kemudian mereka membuat gelanggang keramaian seperti sekaten.

Rakyat menyambutnya dengan gembira, karena itulah keramaian itu disebut meron yang berasal dari bahasa jawa rame dan tiron-tiron.

Sebanyak 13 gunungan itu menjulang tinggi, lebih dari dua meter yang nampak apik dengan bagian atasnya terdapat rangkaian bunga melingkar, lengkap dengan rupa ayam di bagian tengah.

Rangkaian serupa melati juga menjadi hiasan gunungan, yang ternyata itu terbuat dari ketan.

Pungkas cerita tutur Syekh Abdul Qodir ada harapan bahwa dengan adanya ritual meron yang menjadi tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa mengambil berkah, bagi masyarakat desa Sukolilo untuk merekatkan rasa persaudaraan dan persatuan seluruh umat Islam yang ada di dunia. (Kusno)

Published by

Categorised in:

No comment for Tradisi Meron Refleksi Hari Maulud Nabi Muhammad SAW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *