Friday, 20-05-2022 11:03:26 am
Home » Daerah » Uncategorized » Hakekat dan Makna Musibah Dalam Perspektif Agama dan Kesehatan Oleh Yuliana Nuur Azizah

Hakekat dan Makna Musibah Dalam Perspektif Agama dan Kesehatan Oleh Yuliana Nuur Azizah

(244 Views) November 12, 2020 10:56 am | Published by | No comment

Suarapatinews.com – Pati. Manusia di dunia ini tidak terlepas dari yang namanya musibah. Musibah bisa menimpa siapapun, tidak kenal usia baik tua ataupun muda serta tidak kenal dengan jabatan atau status sosialnya. Oleh karena, sewaktu-waktu kita harus siap menghadapi jika tiba-tiba musibah datang menimpa kita. Kita sebagai manusia hanya dapat berdo’a dan berikhtiar semampu kita, selain itu takdir dari Yang Maha Kuasa lah yang menentukan.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musibah dimaknai dengan; (a) kejadian atau peristiwa menyedihkan yang menimpa; (b) malapetaka, bencana. Dapat disimpulkan bahwa arti dari kata musibah yaitu kejadian atau peristiwa yang menimpa manusia, baik yang bersifat ringan maupun yang berat. Berbagai musibah misalnya bencana alam (gempa bumi, banjir, tanah longsor, tsunami dan sebagainya), wabah/virus penyakit, kehilangan harta benda dan lain-lain. Musibah yang datang atas kehendak Allah SWT dan tidak dapat ditolak atau menghindar atas kedatangannya.
Musibah dalam perspektif agama sudah diterangkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, bahwa musibah itu dimaksudkan untuk menguji suatu hamba-Nya, apakah semakin mendekatkan diri, meningkatkan keimanan dan ketakwaan atau justru malah semakin berbuat fasik, menambah kemaksiatan dan jauh dari-Nya. Berikut beberapa macam manusia saat menghadapi musibah, diantaranya yaitu; (a) Golongan orang yang lemah, orang-orang yang setiap keadaan selalu mengeluh, marah, putus asa dan tidak percaya bahwa dibalik semua hal yang terjadi ini pasti ada hikmahnya, (b) Golongan orang yang bersabar, bersabar menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah SWT. juga menerima apapun keadaan yang dihadapinya dengan senyum dan positive thingking, (c) Golongan orang yang ridha, dalam menghadapi musibah yaitu dengan berlapang dada, mereka yakin jika semua dapat terjadi karena atas kehendak Allah SWT Ketika musibah datang, mereka memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa agar diringankan dan digantikan yang lebih baik. (d) Golongan orang yang bersyukur, musibah itu sesuatu yang justru harus dinikmati dan berharap agar musibah itu tidak lekas hilang darinya. Yang menempati derajat ini adalah para nabi dan rasul, waliyullah orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang mendalam.
Misalnya dalam surah Al-Anbiya’ (21) ayat 35, yang artinya :‘’Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.’’ Ayat tersebut menerangkan bahwa ujian Allah itu dapat berupa keburukan dan kebaikan, keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT. Dengan datangnya ujian tersebut akan memberikan motivasi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. bagi orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah SWT. dan bukan sebaliknya, mendapatkan ujian justru menjauh dari Allah SWT, karena dianggap memberatkan dan tak mampu untuk menemukan solusinya.
Kesehatan fisik terganggu apabila seseorang ketika dihadapkan musibah atau permasalahan, pastinya pikiran seseorang tersebut tidak akan tenang dan merasa gelisah. Sehingga mengganggu pola makan dan pola tidur seseorang. Pola makan yang berantakan akan mengganggu sistem pencernaan seseorang, merasa lemas karena kurang tenaga dan kurang asupan dari makanan, yang ujung-ujungnya akan mengganggu aktivitas dari orang itu sendiri. Begitu juga pola tidur akan berantakan dikarenakan seseorang tidak nyaman dan akan terngiang-ngiang musibah atau permasalahan yang menimpanya. Hal ini akan berpengaruh terhadap semangat dalam menjalankan aktivitas. Oleh karenanya kesehatan fisik perlu dijaga, dengan menjalankan pola hidup yang sehat, seperti pola makan yang teratur, pola tidur yang cukup, memperbanyak konsumsi air putih, olahraga yang rutin. Dengan melakukan hal-hal atau kegiatan yang positif akan membuat seseorang dapat menyelesaikan dan menemukan solusi dengan pikiran yang jernih.
Kesehatan mental juga tidak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik. Hal ini dikarenakan mental atau kejiwaan seseorang harus optimal ketika dalam menghadapi berbagai kondisi atau permasalahan dalam hidupnya. Ketika seseorang dengan tenang dan penuh keyakinan saat menghadapi musibah atau permasalahan-permasalahan tertentu, diyakini dapat menyelesaikan permasalahan dan menghadapinya dengan penuh hati-hati, sabar, mampun mengontrol, menemukan solusi yang tepat dan terbaik. Kemudian hal itu semua dapat dilaksanakan dengan baik, maka ia akan merasa senang dan berhasil ketika mampu menaklukan semua itu. Sebaliknya, jika seseorang ketika dihadapkan musibah atau permasalahan tertentu ia merasa cemas, khawatir, marah, memaki-maki, negative thingking, maka ia tidak akan mencapai keberhasilan dalam menemukan dan memecahkan permasalahan atau musibah. Justru ia semakin kacau, merasa tidak tenang dalam hidupnya.

Published by

Categorised in:

No comment for Hakekat dan Makna Musibah Dalam Perspektif Agama dan Kesehatan Oleh Yuliana Nuur Azizah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *