Monday, 29-11-2021 12:20:42 am
Home » Pendidikan » Media Digital dan Agama di Tengah Pandemi

Media Digital dan Agama di Tengah Pandemi

(219 Views) November 29, 2020 11:47 pm | Published by | No comment

Suarapatinews. PATI – Pada masa pandemi covid-19, media digital memberikan peluang baru bagi bidang keagamaan.

Media sosial menjadi dunia baru bagi keagaaman dimasa normal baru ini. Covid-19 tentunya sangat menggemparkan semua orang termasuk keagamaan.



Lebih dari 500 gereja di Amerika Serikat sudah terbiasa menayangkan khutbah secara online melalui media digital, seperti gereja Liquid dan New Jersey (sumber Wikipedia).

Namun secara mental masih belum terbiasa dengan model ibadah ini.

Beberapa rumah ibadah yang biasanya melakukan kegiatan ibadah secara langsung harus merubah kebiasaan yang semula dengan leluasa berinteraksi harus mulai membatasi kegiatan tersebut.

Covid-19 memaksa semua bidang termasuk bidang keagamaaan untuk lebih kreatif dan inovatif agar kegitan keagaamaan tetap berjalan meskipun dalam keadaan dengan penuh keterbatasan.

Meskipun banyak menimbulkan perdebatan, media digital sangat berperan aktif.

Media digital tentunya sangat bermanfaat dan berperan penting dalam aktivitas keagaaman di masa pandemi covid-19.

Media digital dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah yang efektif, dengan ruang lingkung yang luas media digital berperan sebagai pengajaran, cara baru yang lebih interaktif dan tidak terkesan menggurui.

Selain itu media digital dapat meningkatkan relasi (jaringan) baik sesama umat atau antar umat yang tentunya sangat efektif untuk media berinteraksi.

Media digital mampu membangun komunikasi secara virtual secara luas.

Di era digital ini, media digital membuka secara lebar segala bentuk opini dan pendapat dari berbagai pihak yang tentunya diharapkan dapat mebangun rasa saling memahami dan toleransi yang tinggi.

Di masa normal baru, internet menjadi bagian yang signifikan dari cara keagamaan.

Situasi ke depan menuntut interaksi dan keterlibatan yang makin erat antara kegiatan daring dan luring.

Komunitas rumah ibadah tidak bisa lagi dipisahkan dengan interaksi daring.

Sebaliknya, interaksi daring tidak bisa berdiri sendiri. Ibadah secara daring menjadi pengembangan dan pengayaan dari ibadah regular.

Melihat sejumlah fakta di atas, ada agenda yang perlu dicermati oleh lembaga agama.

Pertama, internet atau media digital bukanlah musuh namun justru menjadi tempat bagi umat beragama hidup dan ada di sana.

Kedua, membangun relasi yang kuat. Pendekatan ini juga perlu menjadi perhatian lembaga agama untuk membangun komunitas-komunitas digital berbasis agama yang hidup dan sehat.

Ketiga, lembaga agama perlu mengantisipasi potensi perpecahan dalam konteks internal umat maupun antarumat.

Pemimpin agama perlu berperan aktif dalam hal ini, seperti mengarahkan dan mengingatkan jika ada potensi yang menimbulkan perpecahan.

Ke empat, hirarki agama perlu mengubah pendekatan dari berkhutbah di ‘mimbar’ menjadi berbincang di ‘pasar’. Internet identik dengan interaktivitas.

Jika lembaga agama atau tokoh agama masuk ke dunia internet namun cenderung berkhutbah model satu arah, biasanya kurang diminati.

Lihat saja akun-akun official lembaga agama yang cenderung minim pengikut. Umumnya karena pendekatannya cenderung kaku atau satu arah.

Kelima, lembaga agama perlu mengembangkan literasi digital terutama etika bermedia sosial.

Poin ini menjadi penting karena faktanya, ketika umat beragama masuk ke media sosial, maka unggahan, komentar dan sikapnya bisa berubah 180 derajat, menjadi barbar dan nir-etika.

Lembaga agama perlu mendidik dan membekali umat dengan pengetahuan dan kemampuan untuk menyebarkan nilai-nilai dan keutamaan agama di ruang publik, misalnya dengan tidak menyebarkan hoaks, tidak mengunggah komentar judgemental dan cenderung menyakiti pihak liyan.

Jika hal-hal ini bisa diwujudkan, harapannya, Internet bisa tercipta sebagai ruang atau suasana di mana ‘surga’ sungguh hadir dan dapat dirasakan. (Linda Nur Hidayati)

Published by

Categorised in:

No comment for Media Digital dan Agama di Tengah Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *