Saturday, 04-12-2021 01:58:31 pm
Home » Pendidikan » MODERASI BERAGAMA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

MODERASI BERAGAMA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

(172 Views) November 28, 2020 11:50 am | Published by | No comment

Suarapatinews. Pati – Dalam beberapa waktu ini dunia dihebohkan dengan adanya pandemi virus corona yang melanda bahwa virus corona tersubut mengguncang semua aspek lini sosial kehidupan setiap manusia.

Umat manusia terkejut dengan dampak yang ditimbulkan oleh virus tersebut.



Bahkan dalam setiap negara dan daerah sedah memiliki kebijakan tersendiri dalam menghadapi keadaan situasi virus covid-19 ini.

Indonesia adalah negara dengan keberagaman, etnis, suku, budaya, bahasa dan agama yang nyaris tiada tandingnya di dunia.

Selain ada enam agama yang di anut oleh masyarakat, juga ada ratusan hingga ribuan suku, bahasa dan aksara daerah lainnya di Indonesia.

Selain agama dan kepercayaan yang bermacam-macam, dalam tiap agama juga ada keberagaman penafsiran atas ajaran agama, terkhusus yang berkaitan dengan praktik dan ritual agama.

Umumnya masing-masing penafsiran ajaran agama itu memiliki penganut yang meyakini kebenaran atas tafsir yang di praktikannya.

Moderasi beragama dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah selalu bertindak adil, dan tidak ekstrim, baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri dalam beragama.

Masyarakat juga membutuhkan sebuah cara sudut pandang, sikap dan perilaku beragama tertentu itu tergolongkan moderat atau ekstrem.

Ketua Dewan Masjid Indonesia mengingatkan bagaimana pentingnya moderasi beragama untuk mencegah konflik bernuansa agama disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan yang tidak dapat disertai dengan sikap moderasi.

Dalam suatu pengetahuan tentang hal ini yang tidak bisa berubah dan hal yang mungkin saja berubah dalam ajaran setiap agama itu masing-masing.
Pemerintah telah menetapkan wabah corona virus sebagai suatu bencana nasional.

Di tengah mewabahnya virus corona ini pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk memberi batasan aktifitas di luar rumah.

Mulai dari para pegawai kantoran yang hars bekerja dari rumah, dan anak-anak sekolah yang harus belajar di rumah masing-masing, serta ibadah yang biasanya dilakukan dimasjid pun harus dilakukan di rumah saja.

Dari beberapa kegiatan masyarakat yang biasa dilakukan khusus di Indonesia adalah melakukan kegiatan doa massal di masjid atau ditempat lainnya yang memungkinkan.

Akan tetapi, kegiatan doa-doa massal tersebut di tengah pandemi covid-19 sebaiknya dikurangi dan dibatasi.

Kita tidak menginginkan bahwa doa-doa massal tidak monolog justru penyebab penularan wabah covid-19 mungkin dapat dipahami secara logis oleh sebagai kalangan.

Bahkan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan yang Maha Esa, kegiatan doa-doa massal sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warga negara.

Dalam hal ini umat membutuhkan pendekatan khusus dalam melakukan edukasi supaya tidak terjadi konflik internal umat dalam satu agama atau antar agama dalam menghadapi wabah virus covid-19, salah satunya dengan lebih aktif lagi mensosialisasikan gerakan moderasi beragama di masyarakat.

Sebagai manusia beragama, jelas bahwa agama mempunyai peran yang penting dalam suatu sistem tatanan kehidupan.

Sebuah sudut pandang dalam agama hampir tidak pernah kita lupakan saat pembahasan peristiwa dan fenomena yang ada.

Termasuk membiacarakan wabah yang tengah di alami oleh masyarakat Indonesia yaitu pandemi virus corona atau covid-19.

Dalam edaran Menteri Agama Nomor : SE. 1 tahun 2020 tentang pelaksanaan protokol penanganan covid-19 pada rumah ibadah.

Edaran itu berisi tentang betapa pentingnya mencegah penyebaran virus covid-19 di tempat ibadah dengan mengajak jajaraninstansi di bawah Kementerian Agama untuk mensosialisasikan edaran itu ditengah masyarakat secara luas.

(Kementerian Agama, 2020:1-2) Edaran tersebut substansinya mengajarkan masyarakat untuk lebih mengutamakan sikap moderasi dalam menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Tersebarnya covid-19 hingg ke Indonesia membuat masalah baru bagi negara ini, yaitu persoalan ritual keagamaan.

Dalam menghadapi pandemi covid-19 ini sederhananya kita senantiasa terus berkihtiar, dalam hal ini ada dua ikhtiar yang harus dilakukan yaitu ikhtiar secara ruhaniyah dan ikhtiar secara ilmiah.

Yang dimaksud dengan ikhtiar ilmiah adalah ketika berhubungan dengan anjuran dan himbauan dari pemerintah maka seharusnya kita harus mengikuti anjuran tersebut dengan baik.

Setelah melakukan iktiar ilmiah, maka kemudian kita lakukan ikhiar ruhaniyah yaitu tawakkal dan berserah diri kepada Allah SWT, karena dalam konsep islam, musibah atau wabah merupakan ketetapan atau takdir Allah semata seperti dijelaskan dalam QS At-taubah 9:51 yang artinya ;

Katakanlah ; “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.

Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.

Dan takdir itu adalah kebaikan, karena Allah tidak pernah menetapkan takdir kecuali kebaikan.

Disetiap peristiwa yang terjadi pasti ada hikmah yang tersirat di dalamnya.
Inilah pentingnya moderasi dalam beragama.

Pertimbangan kaidah menghindari kemudaratan lebih utama dibandingkan melaksanakan maslahat menjadi cara dalam islam untuk tetap menjaga moderasi beragama, beragama seharusnya dengan inklusif dan berpikir terbuka.

Penulis : Lia Rahmawati, Mahasiswa Institut Pesantren Matholi’ul Falah, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam.

Published by

Categorised in:

No comment for MODERASI BERAGAMA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *