Monday, 08-08-2022 09:10:31 am
Home » Jendela Hati » Implementasi Konseling CBT Pada ODGJ Yang Dipicu Tekanan Ekonomi di Margo Laras Pati

Implementasi Konseling CBT Pada ODGJ Yang Dipicu Tekanan Ekonomi di Margo Laras Pati

(335 Views) September 21, 2021 2:42 am | Published by | No comment

Suarapatinews. Pati – Seriring dengan waktu dinamisnya kehidupan manusia bermasyarakat dan serta kehidupan yang dihadapi manusia di lingkungan masyarakat, seperti halnya masalah sosial, masalah ekonomi dan kesehatan, selasa tgl (21/09/21).

Kinseling menjadi tahap awal ODGJ menjalani rehabilitasi untuk pemulihan.

Dari permasalahan permasalahan tersebut dapat membawa dampak buruk bagi manusia, seperti perubahan perilaku.



 

Seperti halnya permasalahan tekanan ekonomi yang dapat memicu masalah psikososial dan gangguan jiwa yang dapat berakibat untuk perilaku dan rendahnya kualitas serta produktivitas dari sumber daya manusia dan akhirnya akan menjadi factor yang paling utama memicu gangguan jiwa dengan sebab tekanan ekonomi atau kemiskinan.

 

Masalah ekonomi dapat menimbulkan beban yang sangat berat terutama beban di kehidupan sosial bermasyarakat dan keluarga.

 

Di keluarga masalah tekanan ekonomi dapat memicu konflik antar keluarga bahkan bisa memicu konflik di kehidupan masyarakat.

 

Seorang penerima manfaat (PM) di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Margo Laras Pati mengalami gangguan jiwa yang dipicu karena masalah tekanan ekomoni. Sebut saja dengan TB.

 

Sebelumnya kita akan membahas tentang apa itu Margo Laras?

 

Margo Laras merupakan Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental unit pelaksanaan teknis yang memiliki tugas melaksanakan rehabilitas sosial kepada penyandang disabilitas mental atau biasa disebut ODGJ.

 

Permasalahan permasallahan yang sedang dialami manusia seperti permasalahan ekonomi dapat memicu kesehatan jiwa mereka sehingga dapat menimbulkan ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi maupun untuk mengekspresikan dirinya.

 

TB (samaran) merupakan PM yang saat ini berada di margo laras untuk dilayani dan diberikan pengobatan untuk penyembuhan Kesehatan jiwa TB. TB didiagnosa skizofrenia hiberfrenik, hal yang menimbulkan TB mengalami skizofrenia hiberfrenik yaitu salah satunya tekanan ekonomi.

 

Tidak hanya tekanna ekonomi, TB juga sudah tidak diterima di keluarganya karena TB tidak bisa mencari pekerjaan hingga akhirnya TB hidup di jalanan.

 

TB sangat memikirkan hal tersebut sehingga TB mengalami stress yang snagat berat dan memacu TB mengalami skizofrenia hiberfrenik.

 

Skizofrenia ini dapat dikatakan skizo yang buruk dapat dilihat dari pikiran, pembicaraan dan perilaku kacau serta tidak logis seperti halnya senyum sendiri tanpa ada lawan berkomunikasi.

 

PM awal mula di margo laras ini dengan kondisi merasa sangat sulit untuk berkomunikasi dan melakukan kegiatan sehari hari untuk memenuhi kebutuhan PM sendiri.

 

Latar belakang permasalahan yang menyebabkan PM mengalami gangguan jiwa. Factor yang memicu TB mengalami setress berat bisa dikatakan sudah mengalami gangguan jiwa  yaitu dari factor ekonomi. Awalnya TB ini bekerja layaknya orang normal sebagai Cleaning Service di salah satu.

 

Selang beberapa bulan dia mengundurkan dirinya karena pekerjaan TB tidak sepadan dengan gaji yang diperoleh untuk kebutuhan sehari harinya.

 

Lalu ada factor lain yang memicu TB ini mengalami setres berkepanjangan dan langsung menjadi gangguan jiwa. Yaitu TB tidak diterima oleh anggoyta keluarganya, akhirnya TB tinggal di jalanan tanpa kebutuhan dari keluarga TB.

 

PM mempunyai kebutuhan untuk memenuhi atau untuk memecahkan masalah TB tersebut yaitu dengan cara meningkatkan motivasi TB untuk mengikuti terapi vokasional di balai agar kelak ketika kembali ke keluarga mampu mencukupi kebutuhan finansial untuk menghadapi masalah yang dialaminya. TB memiliki  potensi yang dibekali dari Balai ini yaitu konseli mengikuti kegiatan pertanian.

 

Mungkin dari program kegiatan pertanian ini dapat dijadikan sebuah motivasi konseli untuk membuka kegiatan pertanian yang sudah dibekali ilmu dari balai ini.

 

Dari permasalahan yang dialami TB, konselor memberikan konseling kepada TB untuk dapat memberikan motivasi kepada TB.

 

Konseling merupakan pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh konselor kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.

 

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukanan konselor, maka masalah yang dapat dirumuskan yaitu dari factor ekonomi san factor keluarga. Maka konselor menggunakan pendekatan konseling Behavioral, dimana pendekatan ini menekankan pada dimensi pada kognitif individu dan berbagai metode yang berorientasi pada tindakan untuk membantu mengambil langkah yang jelas dalam mengambil sikap untuk melakukan suatu Tindakan. Dalam pendekatan ini, konselor menggunakan Teknik Cognitive Therapy Behavior (CBT).

 

Dimana konselor menggunakan terapi ini untuk melatih konseli untuk memulihkan cara berfikir dan bertindak. Dalam konseling ini mampu memulihkan kondisi konseli dari sebelumnya.

 

Dari keadaan yang lebih sehat baik fisik maupun psikisnya, secara pelaksanaan konseling yang diterapkan oleh konselor meliputi motivasi guna untuk mengembalikan kondisi konseli.

 

Dengan  teknik CBT ini juga akan membantu konseli mampu Kembali untuk menjalankan aktivitas seperti biasa.

 

Metode konseling antara konselor dengan konseli dalam kegiatan konseling dalam bentuk komunikasi terbuka, dimana konselor melakukan wawancara dan pertanyaan yang diajukan oleh konselor dankonseli lebih terbuka dalam wawancara atau komunikasi tersebut (face to face).

 

Efektivitas dalam konseling ini konselor memberikan pendekatan konseling behavioral karena dilihat dari perubahan sikap dan jiwa konseli yang awal mula konseli kadang diam, dan ketawa sendiri, sikap konseli paham perintah tetapi harus diperintah bukan inisiatif kemauan konseli sendiri.

 

Berdasarkan data yang diperoleh konselor, TB yyang sudah mengikuti kegiatan konseling Behavioral merasakan perkembangan walaupun sedikit, perkembangan seperti itu mampu membuat perubahan dari sikap dari konseli, seperti halnya sudah mau diajak komunikasi, komunikasi sudah berkembang lancar, mau bergabung bersama teman dan mau berkenalan dengan teman teman yang berada di balai.

 

Konsidi fisiknya sudah ada perkembangan dan menjalani pengobatan di balai rehabilitasi Margo Laras.

 

Dalam tahapan konseling behavioral Teknik CBT, konselor melakukan prosedur prosedur untuk menemukan hasil dari kegiatan konseling ini.

 

Berikut tahapan konselor

Identifikasi masalah konselor melatih konseli untuk bisa mengenali situasi ataupun kondisi yang dapat mendasari munculnya pikiran negative dari perasaan konseli seperti halnya konselor memberikan sebuah pertanyaan sedikit untuk dapatkan informasi terkait pikiran yang menyebabkan timbulnya permasalahan konseli.

 

Pertanyaan dan Analisa konselor

Konselor dan konseli berkomunikasi tanya jawab secara singkat untuk konselor mendapatkan informasi terkait pikiran yang menibulkan perasaan yang negative dan konselor dapat menganalisa terkait bukti yang dapat mendukung soal perasaan negative yang timbul dari diri konseli.

 

Konselor memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai permasalahan yang dihadapi.

 

Pada tahap ini, konselor melakukan pendekatan pada konseli melalui tanya jawab untuk mendapatkan informasi dari permasalahan konseli.

 

Identifikasi dan koreksi tahapan ini merupakan tahapan terakhir dimana konseli dapat mengubah pikiran yang negative tentang diri konseli. Konseli belajar untuk mengubah sikap dan perilaku yang awalnya cenderung pasif pikiran negative bisa diubah ke pikiran yang cenderung aktif.

 

Dalam proses konseling behavior dengan tahapan untuk Teknik CBT diatas, adanya interaksi dua pihak antara konselor dengan konseli.

 

Dimana konselor memberikan motivasi dan soal tanya jawab daripada konseli terhadap persoalan dan permasalahan konseli terkait dengan ekonomi.

 

Konselor memberikan pengarahan kepada konseli untuk berjiwa sosial seperti halnya menjalin silahturahmi dan mendekatkan diri kepada teman teman TB yang berada dibalai. Interaksi TB dengan teman Balai harus baik terutama teman yang sekamar atau satu wisma dengan TB.

 

Selain itu, konseli juga saling menolong dan berbagi kepada masyarakat yng membutuhkan jika kelak TB sudah Kembali ke masyarakat.

 

Terakhir, konselor menerapkan bimbingan spiritual ke konseli untuk mendekatkan diri konseli kepada Allah. Seperti halnya sholat, wudhu, berdoa dan berdzikir agar konseli dapat memulihkan bukan hanya fisiknya akan tetapi memulihkan dari psikis dan rohani konseli.

 

Konseli bisa membaca ayat ayat suci alquran surah pendek. Akan tetapi konseli belum mempunyai keinginan untuk shalat. Konselor berupaya untuk terus membimbing dan mengarahkan konseli untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. (Oktavia)

Published by

Categorised in:

No comment for Implementasi Konseling CBT Pada ODGJ Yang Dipicu Tekanan Ekonomi di Margo Laras Pati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *