Saturday, 04-12-2021 02:11:42 pm
Home » Pendidikan » Covid dan Daring Menjadi Kisah Cerita Wali Murid Ditengah Pandemic

Covid dan Daring Menjadi Kisah Cerita Wali Murid Ditengah Pandemic

(282 Views) November 3, 2020 12:59 am | Published by | No comment

Suarapatinews. Jepara – Keluh kesah sang wali murid ditengah badai pandemic,  “Si B, bu, tak tumbaske kuota alokasi 1 minggu, kok 2 dino telas! Begitu terus.” Wali Murid Madrasah Ibtidaiyah MU bercerita dengan sedikit menekan tiap katanya, Selasa tgl (03/11/20).

KKN MDR EUVOLA 2020, IPMAFA 19″

Kening saya berkerut, masalahnya proses pembelajaran daring di madrasah si B ini yang juga tempat saya mengabdi, termasuk dimudahkan.



Pembelajaran lewat grup WA dan pengerjaan tugas bahkan bisa sampai malam melihat banyaknya peserta didik masih menggunakan android orang tua.

Sedangkan orang tua harus bekerja dan peserta didik baru bisa on line lepas jam 4 sore. Sedangkan penggunaan kuota harusnya tidak sebanyak itu kan?

“Kok bisa? Harusnya ngirim foto hasil tugas dan buka file pembelajaran kan tidak secepat itu.” Saya memiringkan kepala menatap lebih jelas padanya.

“kuotanya buat game, ya? Buat nonton youtube macem-macem?”

Teringat beberapa kali ketemu peserta didik di luar sekolah dan curhat bisa sampai tengah malam main game online.

Wali peserta didik tersenyum malu.

“kapan bu masuk sekolahnya? Saya ngikut pusing ngajari anak-anak. Jadi ikut sekolah lagi hahaha…”

Aku ikut tertawa. Ya mau gimana lagi? Covid mungkin dalam proses belum mundur teratur ini, belum tahu kapan usainya.

Belum bisa meraba kapan aktif 6 hari sekolah normal kembali kan?

Dikesempatan yang lain saya bertemu wali murid yang berbeda.

Saat itu beliau meminta untuk menggosokkan kartu kuota yang diberikan Cuma-Cuma dari Madrasah Ibtidaiyah MU yang kemudian saya up pada provider di hp beliau.

HP yang sama digunakan sebagai daring putrinya.

“Kuota segini (4 Giga) habis berapa hari bu?” Tanyaku sambil menggosok stiker abu-abu pada kertas kuota.

“Berapa ya, bu? Paling sebulan cukup. Biasanya tanggal muda baru beli kuota.”

Kutatap beliau dengan serius, mengingat beliau juga mempunyai lalu lintas yang sibuk sebagai isrti pamong desa dan juga mengajar di PAUD yang dikelola desa setempat bisa hanya 4 Giga habis satu bulan.

Dan kemarin bagaimana caranya dua hari habis untuk kuota seminggu?

Sebenarnya peserta didik kami lebih banyak menekuri daring pembelajaran kami atau berbelok daring ke yang lain?

Benar sudah sedari bulan maret pertengahan tanggal hingga menginjak bulan baru di November lalu lintas pendidikan berubah dalam jaringan yang kami sebut Daring. Semua pelajaran kami kirimkan lewat WA grup kelas.

Guru kelas dan Guru Mapel mengisi jam-jam pembelajaran setiap pagi hari hingga malam memberikan konsultasi pada peserta didik jika masih belum jelas pelajaran hari itu.

Covid 19 merupakan System virus yang merusak saluran napas dan memperkeruh penyakit penyerta.

Penularannya melalui udara, menempel di berbagai tempat dan sekarang airbone.

Pandemic yang bermula berasal dari Wuhan dan meyebar ke bagian-bagian Negara di dunia lain. Termasuk Indonesia. Termasuk Kabupaten kami.

Tepatnya bulan Puasa Ramadhan. Pemudik dari kota besar pulang kampong.

Membawa riwayat telah berinteraksi dengan penderita atau telah masuk ke wilayah infeksius lalu menularkan sejawat di desa tanpa sadar maupun dengan sadar.

Akhirnya paranoid, keresahan, kegelisahan, dan karantina daerah (desa) dilakukan, tak terelak lagi.

Segala pertemuan kelompok di desa lebih di ketatkan lagi.

Poskampling, polisi dan kawalannya masuk desa menata masyarakat yang bandel tidak bisa diingatkan.

Lembaga pendidikan sudah berhenti luring sejak ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Dan pengalihan mengerjakan Ujian Nasional dengan daring, Seperti yang saya sadur lewat portal blog resmi Kementerian dan Kebudayaan.

“Setelah kami pertimbangkan dan diskusikan dengan Bapak Presiden dan juga instansi di luar, kami di Kemendikbud telah memutuskan untuk membatalkan ujian nasional di tahun 2020.

Tidak ada yang lebih penting daripada keamanan dan kesehatan siswa dan keluarganya,” disampaikan Mendikbud, di Jakarta, Selasa (24/03).

Masih lewat blog resmi tersebut, Mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring)/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

“Kami ingin mengajurkan bagi daerah yang sudah melakukan belajar dari rumah agar dipastikan gurunya juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan guru, itu sangat penting,” pesan Nadiem.

Dan sudah kami laksanakan lewat-lawatan kami melalui pembelajaran di grup-grup WA kelas.

Daring kami di isi bagaimana cara menjaga kebersihan tubuh.

Mengikuti protocol kesehatan dengan sadar dampak covid yang akan ditemukan tidak terduga-duga.

Untuk mengurangi ke luar rumah jika memang tidak perlu sekali.

Daring yang kami isi pembahasan pelajaran ringan agar anak yang dibantu orang tua tidak berat dalam melaksanaka belajar di rumah.

Praktik-praktik dan tugas-tugas sederhana yang di kumpulkan lewat foto, Voice note, rekaman, dan penguatan agama lewat hapalan juz 30 kami lakukan.

Acap kali ingin sekali kami ingin melaksanakan pertemuan virtual, tapi kembali lagi, keterbatasan akomodasi pedesaan yang kurang mumpuni membuat kami pelaku pendidikan mencari jalan tengah, semampunya masyarakat kami.

Daring berarti butuh android mumpuni, signal yang baik, kuota, pendidik dan alat tempurnya, peserta didik dan wali peserta didk yang mau diajak kerja sama merupakan hal yang tidak bisa di pisahkan.

Semisal saja seperti penemuan dilapangan, kuota yang harusnya bisa dibuat daring dan melaksanakan pembelajaran seperti yang diarahkan Bapak Menteri akan terhambat beralih ke hal-hal lain yang bukan seharusnya.

Daring terganggu, pemgumpulan materi dan tugas terhambat. Anak yang harusnya belajar daring akan berlarian bermain diluar.

Melupakan kewajiban belajar khususnya dengan alasan tidak bisa belajar karena kuota habis dan alasan lain sebagainya.

Bukankah sekolah sudah memberikan kuota gratis? Benar, dan habis untuk yang seharusnya.

Orang tua tidak bisa melulu memberikan kuota karena pandemic ini juga memberikan pukulan rata di semua lini ekonomi masyarakat. Input keuangan tidak bisa selancar seperti sebelum pandemic.

Bagaimana bantuan pemerintah? Berbeda naungan, berbeda kebijakan.

Anak yang berada di naungan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan sudah dua kali dalam 2 bulan menerima kuota belajar gratis yang dikirim langsung pada provider yang disetujui sebelumnya oleh wali peserta didik.

Dan kami yang bernaung pada Departemen Agama baru pada tahap usulan kuota belajar lewat e-ponsel.

Untuk kami disini ketika daerah sudah berstatus kuning dan pemerintahan desa mengijinkan, kami mencoba menilik dengan menjembatani anak-anak kami yang mulai tidak akrab dengan duduk tenang belajar dengan luring, home visit dengan jumlah murid ditentukan, beda jam pertemuan, beda hari pembelajaran dengan protocol kesehatan penuh.

Semisal contoh kecil, jika anak sakit flu (demam, hidung meler, bersin-bersin dan batuk) dilarang ikut luring sampai sembuh.

Ketika peserta didik pulang akan ada garapan untuk besok yang mana daring akan dilanjutkan.

Semua kami lakukan agar peserta didik memulai pembiasan permulaan kembali dan tidak kaget dan gelisah jika sudah aktif hingga enam hari.

Apa yang di putuskan pemerintah adalah hasil dari pemikiran yang terbaik untuk masyarakat.

Dan kami masyarakat melaksanakan penuh apa yang menjadi beban dan kewajiban kami.

Semoga angka penurunan Covid beserta peluruhnya segera ditemukan. Mari berpikir positip dan ambil hikmah dari setiap kejadian. Wallahu ‘Alam. (Halimatus Sa’diyah)

Published by

Categorised in:

No comment for Covid dan Daring Menjadi Kisah Cerita Wali Murid Ditengah Pandemic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *