Tuesday, 16-07-2024 08:43:28 pm
Home » Sejarah » Tradisi Meron Menjadi Akar Budaya Khas Masyarakat Sukolilo Pati

Tradisi Meron Menjadi Akar Budaya Khas Masyarakat Sukolilo Pati

(3660 Views) November 24, 2018 7:00 am | Published by | No comment

Suarapatinews. Pati – Meron merupakan tradisi yang dilaksanakan di Desa Sukolilo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.

Meron menjadi cagar budaya yang dilestarikan oleh masyarakat Sukolilo Pati.

Tradisi ini merupakan Tradisi tahunan yang mengikuti penyelenggaraan Sekatenan di Keraton Surakarta dan Keraton Jogjakarta.



Meskipun tradisi ini diselenggarakan mengikuti tradisi lain, tradisi ini memiliki khas corak budaya daerah lokal yang di ikuti oleh masyarakat Sukolilo pada perayaan meron yang diselengaraakan hari Kamis tgl (22/11/18).

Menurut empunya cerita yang diambil dari keterangan para sesepuh masyarakat desa Sukolilo saat mengikuti acara perayaan Meron menjelaskan, “ Pengertian Meron diambil dari bahasa Kawi Meru, berarti Gunung yang menjadi ikonik pada perayaan tradisi ini.

Meron dari Basa Jawa Kuno, Merong, berarti Mengamuk; tradisi ini memperingati peristiwa perang Mataram – Pati.

Meron dari Basa Jawi Kuno, Emper (Emperan) Gunungan di pamerkan di emper (Serambi/Teras Rumah) para perangkat desa.

Meron dari Bahasa Arab : Mi’roj, berarti meninggi (Gunungan yang meninggi).

Meron dari Kerata Basa : Me-Ron; Rame Tiron-tiron, berarti tradisi ini mengikuti tradisi yang sudah ada,” jelasnya.

Maksud dan tujuan upacara penyelenggaraan tradisi ini tidak jauh beda dengan tradisi-tradisi lain yang bertujuan memperingati hari lahir Nabi Muhammad, selain itu, Meron juga ditujukan oleh orang Sukolilo untuk memperingati hari sedekah bumi.

Meron juga dipadukan dengan acara peringatan kematian (Haul) Pendowo Limo (tokoh pendiri Desa Sukolilo),” ungkapnya.

Di jelaskan pula rangkaian pembuatan meron meliputi pembuatan Ancak, Mustaka, dan umbul-umbul, persiapan pembuatan meron ini memakan waktu sekitar 36 hari.

Proses dimulai dari pembuatan ampyang (atau Krecek; nasi yang dibulat-pipihkan kemudian dikeringkan).

Sedangkan ancak hanya dibersihkan dan dicek kerusakannya saja, karena biasanya ancak yang terbuat dari kayu jati berkualitas bagus, ancak akan diturunkan secara bergantian menurut pada jabatan.

Kemudian seminggu sebelum perayaan, hiasan berupa Ayam jago dan Mushalla (tergantung mana yang dibuat menurut adat) baru akan dibuat.

Selanjutnya aksesoris seperti kertas, umbul-umbul, janur dan sebagainya dibuat pada siang hari saat masuk proses malam tirakatan,” ujarnya.

Tirakatan yang dilaksanakan di rumah kepala desa bertepatan pada malam hari menjelang perayaan Meron.

Tirakatan ini disisipi dengan hiburan rakyat yang sering kali berupa Wayang kulit atau kesenian ketoprak.

Dalam perkembangannya pada saat-saat tirakatan ini muncul acara Ulan-ulan, acara pawai yang dilaksanakan setelah waktu maghrib dengan arak-arakan Barongan, Barong-sai, Naga Liong, atau sekedar mengarak boneka besar dengan musik-musik dangdut sepanjang jalan yang nantinya digunakan rute untuk mengarak Meron.

Kemunculan Awal Meron dimulai sekitar awal abad ke-17 Pasca Pasukan Mataram menyerang Kabupaten Pati.

Pasukan yang dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among, Kanjeng Tumenggung Raja Meladi, Kanjeng Raden Tumenggung Candang Lawe, dan Kanjeng Raden Tumenggung Samirono gagal mengalahkan Adipati Pragola I.

Sehingga pasukan ini melakukan perjalanan pulang dari Pati ke Mataram, rute pasukan ini melewati Desa Sukolilo yang berada di Lereng Gunung Kendeng, pegunungan kapur utara.

Daerah Sukolilo adalah kampung halaman dari seorang Juru Srati gajah Kerajaan Mataram bernama Raden Ngabei Suro Kadam.

Ketika perang Mataram – Pati berlangsung, Suro Kadam ditugasi oleh Panembahan Senapati sebagai Juru Telik Sandi karena ia adalah orang pribumi Sukolilo yang termasuk dalam wilayah Pati Bagian Selatan.

Pasukan Mataram menetap di Desa Sukolilo Pasca meninggalnya Adipati Pragola I tahun 1600 (alasan meninggalnya belum ada kejelasan bukti).

Pasukan ini menetap di Sukolilo untuk berjaga jaga jika nantinya Pati melakukan serangan balasan pada Mataram.

Pemerintahan Sukolilo pada saat itu berbentuk Kademangan dibawah Adipati Pragola I yang di pegang oleh Suro Kerto, Adik dari Raden Ngabei Suro Kadam.

Suro Kerto mengijinkan Pasukan Mataram untuk menetap di Sukolilo, bahkan hingga Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among wafat di Desa tersebut.

Pasukan Mataram menetap pada sekitar bulan Maulid, pada Tanggal 12 Maulid tahun Saka tersebut di keraton Mataram sedang melaksanakan prosesi Sekaten yang diperingati setiap setahun sekali.

Pasukan Mataram yang juga memiliki trah Kusuma keraton merasa harus melakukan Sekatenan meskipun bukan di Kota Gede.

Pihak keluarga Dalem keraton Mataram – kemungkinan Keraton Mataram telah dipegang oleh Raja Baru, Hanyakrawati – mengijinkan perayaan serupa Sekatenan, meskipun pelaksanaannya adalah sehari setelah Sekatenan.

Prosesi meron yang dilaksanakan di Sukolilo menganut tahun Aboge (Rebowage) tiruan adat Sekatenan menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Prosesi Meron pertama kali yang dilaksanakan Pasukan Mataram pimpinan Mataram memiliki perbedaan yang khas dari Prosesi Sekatenan, meskipun tujuannya sama, tetapi Mataram memiliki fasilitas untuk memenuhi Prosesi Sekatenan.

Pada dasarnya Sekaten dilaksanakan dengan pawai gunungan yang berisi makanan-makanan khas Mataram dan dengan pawai Pusaka keraton termasuk hewan yang di keramatkan oleh keraton.

Tetapi Meron berbeda, dengan menggunakan Rencek/Oncek yang disusun meninggi, rencek adalah sejenis Karak (Nasi yang dikeringkan) dan dibuat memanjang seperti Pita, dengan disatukan menggunakan tali.

Pelaksanaan Tradisi meron di Sukolilo menganut tahun Aboge (Rebowage) sehingga kebanyakan dilaksanakan pada tanggal 13 Rabiul Awal atau sehari setelah pelaksanaan sekatenan di Kasultanan Mataram.

Sejarah Asal usul nama Sukolilo berasal dari dua kosakata Suko berarti senang dan Lilo yang berarti ikhlas.

Dengan harapan masyarakat Sukolilo memiliki budi pekerti senang, ikhlas, saling menolong dan senang memberi, namun Desa Sukolilo sering dihubungkan dengan legenda Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan.

Pada saat itu Ki Ageng Pemanahan sedang mencari kakak seperguruannya Ki Ageng Giring, setelah sampai, Ki Ageng Pemanahan dijamu oleh Nyai Ageng Giring (istri Ki Ageng Giring).

Singkat cerita, Ki Ageng Pemanahan diberi jamuan air kelapa oleh Nyai Ageng Giring, saat mengetahui hal tersebut Ki Ageng Giring marah kepada Nyai Ageng.

Ternyara air kelapa yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan memiliki petuah, niscaya siapapun yang meminum air kelapa tersebut akan melahirkan raja-raja ditanah Jawa.

Ki Ageng Giring meminta kepada Ki Ageng Pemanahan untuk menjadikan agar kelak merelakan anaknya (Ki Ageng Giring) menjadi raja pada keturunan ketiga.

Mendengar permintaan tersebut Ki Ageng Pemanahan menolak dan melanjutkan negosiasi, hingga menghasilkan kesepakatan kelak pada keturunan ketujuh menjadi Raja ditanah Jawa.

“Dhi, sampai sini saja saya dapat mengantarkan adhi,” kata Ki Ageng Giring saat mengantarkan Ki Ageng Pemanahan sampai Tulang Tumenggung (lokasi penyebrangan aliran sungai Sumber Lawang yang memiliki dua muara).

“Ya, Kang, Trimakasih atas keluhuran budi kakang terhadap saya.. lelakon sing wis dak tindakake wingi-wingi, mengepokan karo degan sing tak ombe banyune aku yo ora ngerti sak sukolilamu aku njaluk pengapuro” Ki Ageng Pemanahan berpesan. “ Yo, dhi, podho-podho pengapurane”.

Talang Tumenggung merupakan saksi ucapan Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan, hingga menjadi nama “Sukolilo”. Meron merupakan tradisi yang ada di Desa Sukolilo.

Meron merupakan tiruan adat Sekatenan menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W di Mataram atau Yogyakarta.

Sejarah Tradisi Meron berawal dari Desa Sukolilo yang merupakan Kademangan dibawah kekuasaan Kadipaten Pati Pesantenan.

Usai perang Kesultanan Mataram menumpas perlawanan Adipati Pati, sekitar tahun 1600 sisa-sisa prajurit Mataram yang bertugas di Kademangan Sukolilo tidak pulang ke Mataram namun mesanggrah (beristirahat) di Kademangan Sukolilo.

Para prajurit ingat setiap tanggal 12 Maulud di Mataram menyelenggarakan upacara Sekaten menyambut Maulid Nabi S.A.W.

Para prajurit ijin untuk tidak pulang dengan alasan berjaga-jaga agar tidak terjadi pembangkangan, dan juga menyampaikan permohonan untuk menyelenggarakan upacara Sekatenan di Sukolilo.

Berkat ijin tersebut Kademangan Sukolilo diperkenankan mengadakan upacara serupa (Sekaten) setiap tahunnya di Sukolilo.

Namun tidak lagi menggunakan nama Sekaten tetapi menjadi Meron.

Tradisi ini setiap tahunnya dilestarikan oleh masyarakat Sukolilo hingga sekarang. ($.diman)

Published by

Categorised in:

No comment for Tradisi Meron Menjadi Akar Budaya Khas Masyarakat Sukolilo Pati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *