Saturday, 04-12-2021 01:35:39 pm
Home » Daerah » Uncategorized » Potret Tradisi Barikan Sebagai Ikhtiar Keselamatan Masyarakat di Era Pandemi

Potret Tradisi Barikan Sebagai Ikhtiar Keselamatan Masyarakat di Era Pandemi

(278 Views) November 10, 2020 7:38 am | Published by | No comment

Suarapatinews.com – Pati. Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Hal ini merupakan buah dari kesuksesan dakwah Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para penyebar Islam, khususnya para Walisongo. Hingga kini pun, beberapa tradisi yang mencerminkan ke-khasan Islam di Indonesia masih banyak yang dilestarikan, salah satunya adalah tradisi barikan.

Pada mulanya, tradisi ini berasal dari kebiasaan masyarakat di daerah Karimun Jawa, yang setiap panen ingin mengadakan festival atau perayaan sebagai rasa syukur atas anugerah yang diberikan Allah SWT kepada mereka dalam bentuk hasil panen dan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Akhirnya, tradisi semacam ini kemudian berkembang ke daerah-daerah lain, salah satunya yaitu ke Desa Guwo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati.
Mengingat setiap daerah memiliki adat masing-masing (desa mawa cara), maka pelaksanaan tradisi barikan di Desa Guwo ini pun sedikit berbeda dengan di Karimun Jawa. Tradisi barikan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Guwo pada umumnya dilakukan bukan dengan tujuan perayaan, tetapi untuk tolak balak (menghindarkan keburukan). Yang mana, pada awalnya tradisi barikan ini hanya dilakukan masyarakat setempat ketika bulan Muharram saja. Namun di era pandemi seperti sekarang ini, masyarakat Desa Guwo rutin melaksanakan tradisi ini setiap Malam Jum’at Wage. Tujuannya adalah sebagai ikhtiar ruhaniyah agar diberikan keselamatan dari wabah Covid-19 yang melanda Indonesia.
Tujuan tersebut sejalan dengan makna barikan atau bari’an itu sendiri yang pada dasarnya berasal dari bahasa Arab baro’a, yubarri’u, bara’atan/bari’an yang berarti bebas (al-Marbawi, t.th:45). Yaitu bebas dari berbagai marabahaya, wabah penyakit, malapetaka dan musibah (balak).
Pada acara barikan ini, biasanya masyarakat berkumpul di pertigaan atau perempatan jalan di wilayahnya (bukan jalan raya), dengan waktu pelaksanaannya setelah shalat ashar (ba’da ashar), yaitu ketika aktifitas kerja masyarakat sudah selesai, sehingga tidak terlalu mengganggu pengguna jalan. Selain itu, biasanya masing-masing warga per keluarga membawa sendiri-sendiri makanan barikan berupa nasi dan lauk pauknya. Dalam hal ini, setiap daerah memiliki makanan khas barikan yang berbeda-beda.
Semua makanan yang telah dibawa warga, kemudian dikumpulkan di tengah-tengah untuk bersama-sama didoakan. Doa yang dilantunkan antara lain meliputi doa permohonan ampun, permohonan kesehatan, keberkahan dan keselamatan, serta doa untuk para leluhur desa.
Selain sebagai ajang ikhtiar keselamatan dengan rangkaian doa bersama, tradisi barikan ini juga sebagai ajang untuk mempererat tali persaudaraan antar warga masyarakat. Hal itu tercermin ketika semua warga masyarakat menyantap makanan barikan secara bersama-sama. Mungkin inilah yang disebut dengan Harmoni Islam Nusantara, seperti kata para cendekia.
Semoga tradisi barikan yang sudah berlangsung sejak dahulu ini, akan tetap ada meski rumah dan sawah di kampung telah berganti menjadi gedung-gedung pencakar langit dunia.



Published by

Categorised in:

No comment for Potret Tradisi Barikan Sebagai Ikhtiar Keselamatan Masyarakat di Era Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *